Close Menu
RILIS.NETRILIS.NET
  • Daerah
  • Nasional
  • Hukum
  • Ragam
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Opini
  • Olahraga
  • Politik
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
RILIS.NETRILIS.NET
Facebook X (Twitter) Instagram
KONTAK
  • Daerah
  • Nasional
  • Hukum
  • Ragam
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Opini
  • Olahraga
  • Politik
RILIS.NETRILIS.NET
Peristiwa

Kementerian LHK Mulai Respon dengan Bau Busuk di Lingkar Tambang PT Medco

REDAKSIBy REDAKSIJanuari 20, 20236 Mins Read
Kementerian LHK Mulai Respon dengan Bau Busuk di Lingkar Tambang PT Medco Januari 20, 2023
Tim dari Kementerian LHK temui warga di lingkar tambang PT Medco yang mengeluh akibat pencemaran limbah udara (Foto: Rilis.net)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

RILIS.NET, ACEH TIMUR – Tim dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mulai respon dengan kasus bau busuk yang dialami oleh warga di lingkar tambang PT Medco E&P Malaka.

Atas perhatian dari Kementerian LHK itu Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh menyambut baik respon cepat dalam penanganan pencemaran limbah udara dari proses produksi minyak dan gas milik PT Medco E&P Malaka.

Informasi yang diperoleh RILIS.NET, pada Rabu (18/1) Tim Pengendalian Pencemaran Udara (PPU) KLHK turun bertemu dengan warga, setelah kelompok perempuan Gampong Blang Nisam, Kecamatan Indra Makmur, Aceh Timur bersama WALHI Aceh melaporkan kebauan tersebut yang diduga telah banyak memakan korban perempuan, anak, ibu hamil hingga lansia.

“Kita menyambut baik niat baik KLHK yang turun langsung bertemu, berdiskusi dan mendengar keluhan warga terkait kebauan yang diduga bersumber dari proses produksi PT Medco,” kata Direktur WALHI Aceh, Ahmad Shalihin kepada RILIS.NET, Jumat (20/1/2023).

Om Sol, sapaan akrab Ahmad Shalihin menyampaikan, kedatangan tim PPU KLHK berdiskusi dengan kelompok perempuan merupakan langkah maju atas perjuangan warga yang tinggal di lingkar tambang PT Medco E&P Malaka untuk mencari keadilan atas hak hidup sehat mereka.

“Ini merupakan kemenangan kecil dari warga yang tinggal di lingkar tambang PT Medco untuk memperjuangkan hak atas atas lingkungan hidup yang sehat,” jelas Om Sol.

Tim PPU KLHK berjumlah dua orang yaitu Jamsen dan Ahmad didampingi WALHI Aceh bertemu langsung dengan perwakilan kelompok perempuan di Kecamatan Indra Makmur, Kabupaten Aceh Timur, pada Rabu lalu di Gampong Blang Nisam. Tim juga meninjau ke sejumlah titik perumahan warga yang berdekatan dengan PT Medco E&P Malaka.

Dalam pertemuan yang berlangsung selama 2 jam lebih, tim PPU KLHK menjaring aspirasi warga, dari kebauan, dampak kesehatan hingga pengelolaan dana Corporate Social Responsibility (CSR) yang dilakukan oleh perusahaan.

Baca Juga :  Sejumlah Bangunan Milik Warga di Jalan Sidorjo Langsa Ludes Terbakar

Om Sol menyebutkan, dalam pertemuan tersebut berbagai keluhan disampaikan oleh warga kepada tim PPU KLHK. Persoalan yang paling dominan muncul adalah dampak kebauan yang berakibat terganggu kesehatan hingga aktivitas ekonomi.

Sejak 2019 hingga akhir 2022 sudah 13 orang lebih yang menjadi korban, baik yang dirawat di Puskesmas maupun yang langsung dilarikan ke rumah sakit umum daerah Zubir Mahmud di Idi, Kabupaten Aceh Timur.

Keluhan mereka sesak nafas, mual, muntah-muntah, pusing, lemas hingga ada yang pingsan setelah menghirup bau busuk dari limbah proses produksi PT Medco E&P Malaka. Korbannya lagi-lagi kebanyakan adalah perempuan, anak-anak serta lansia yang berusia di atas 80 tahun.

Ia juga menambahkan, baru-baru ini pada tanggal 2 Januari 2023, ada satu anak berusia 2 tahun dari Gampong Alue Patong harus dilarikan ke Puskesmas Alue Ie Merah dan satu orang dewasa mengalami sesak, mual-mual, muntah dan pusing.

“Untuk anak usia 2 tahun tersebut, pihak Puskesmas harus merujuk ke rumah sakit umum daerah Zubir Mahmud di Idi, karena tidak mampu ditangani di pusat kesehatan dasar,” terang Om Sol.

Hal lain yang mengejutkan mengemuka dalam pertemuan tersebut, sebut Om Sol. Warga yang tinggal di lingkar tambang ternyata tidak mengetahui pengetahuan mitigasi tanggap darurat, bila sewaktu-waktu terjadi kebocoran atau kejadian luar biasa lainnya dari proses produksi minyak dan gas milik PT Medco E&P Malaka.

Menurut Om Sol, seyogyanya warga yang tinggal di lingkar tambang wajib dibekali pengetahuan mitigasi. Sehingga bila terjadi sesuatu dari proses produksi, dapat meminimalisir korban dan warga memiliki pengetahuan cara menyelamatkan diri.

Terlebih sebut Om Sol, bila kejadian luar biasa terjadi saat warga sedang beraktivitas di luar rumah. Ada anak yang sedang sekolah dan anggota keluarga lainnya tidak di bersama, harus memiliki pengetahuan cara menyelamatkan diri untuk mencegah banyak korban berjatuhan.

Baca Juga :  Warga Ranto Peureulak yang Tenggelam di Sungai Ditemukan Meninggal Dunia

Termasuk titik kumpul untuk menyelamatkan diri dan pusat pertemuan keluarga saat berpencar karena kejadian luar biasa tersebut. Kata Om Sol, berdasar keterangan warga, hingga sekarang pengetahuan tersebut tidak dimiliki oleh warga.

“Bayangkan kalau anak di sekolah, orang tua di rumah, pasti akan orang tua panik dan akan bertindak gegabah, ini bisa berdampak terhadap keselamatan nyawa seseorang,” jelasnya.

CSR Tidak Partisipatif

Permasalahan yang terjadi dan menimpa warga yang tinggal di lingkar tambang tidak hanya menyangkut dengan kebauan yang berdampak terhadap menurunnya kualitas kesehatan warga. Tetapi juga muncul bahwa pengelolaan dana CSR yang dilakukan perusahaan tidak partisipatif.

Warga menjelaskan dalam pertemuan itu, program CSR yang merupakan kewajiban perusahaan dikelola bukan berdasarkan kebutuhan warga. Tetapi beberapa dana CSR itu diputuskan komoditinya oleh pihak perusahaan sendiri. Sehingga beberapa program CSR berdasarkan keterangan dari warga gagal.

“Jadi berdasarkan keterangan dari warga, penentuan komoditi itu bukan berdasarkan kebutuhan warga, tidak partisipatif,” kata Om Sol.

Salah satu program CSR yang dinilai gagal oleh warga saat pihak perusahaan menawarkan penanaman padi System of Rice Intensification (SRI). Selama ini warga menanam padi masih secara konvensional.

“Gak mungkin bisa terlaksana dalam satu tahun tanam padi SRI, kondisi tanah di sawah milik warga masih terkontaminasi pupuk mengandung zat kimia, jadi untuk mengubah tanah jadi organik butuh waktu lama,” tuturnya.

Yang terjadi kemudian, sebut Om Sol, produksi padi menggunakan SRI menurun, sehingga banyak warga yang kemudian meninggalkan padi SRI dan kembali menanam padi secara konvensional.

Kemudian ada juga pembagian bibit tanaman perkebunan, sebut Om Sol, seperti durian, rambutan dan beberapa jenis lainnya. Lagi-lagi tidak sesuai dengan keinginan warga.

Baca Juga :  Hordeng Lupa Ditutup, Hubungan Badan Muda Mudi Ini Ditonton Warga dari Jendela

Pasalnya saat warga terima sebutnya, bibit didatangkan dari luar Aceh dan saat diminta sertifikasi dan surat karantina bibit, pihak yang mendatangkan bibit tidak mampu memperlihatkan seluruh administrasi tersebut.

“Jadi bibit itu ditolak warga dan kemudian memang diganti lain oleh pihak perusahaan, jadi kalau seperti ini dana yang banyak mengalir ke konsultan, bukan ke warga,” tukasnya.

Berdasarkan beberapa fakta dan temuan lapangan tersebut, kata Om Sol, PT Medco E&P Malaka terkesan tidak serius dalam memproteksi warga dari dampak produksi minyak dan gas tersebut, sehingga kebauan yang seharusnya dapat diantisipasi telah diabaikan.

Begitu juga pengelolaan dana CSR yang semestinya harus secara partisipatif. Perusahaan harus melibatkan secara penuh untuk menentukan program yang hendak dikerjakan untuk pengelolaan dana CSR.

“Jadi program CSR jangan diputuskan top down, tetapi harus button up, sehingga sesuai dengan keinginan dan kebutuhan warga,” jelasnya.

Atas dasar itu, WALHI Aceh bersama warga saat ini sedang melengkapi data dan fakta lapangan terkait dengan pencemaran udara. Hingga sekarang sudah berhasil merampungkan bukti-bukti kelalaian pihak perusahaan mencapai 90 persen.

“Kalau pihak perusahaan masih mengabaikan keluhan warga dan tidak segera mengantisipasi, tidak tertutup kemungkinan akan menempuh jalur hukum,” tukasnya.

Kendati demikian, saat ini WALHI Aceh bersama warga masih menempuh jalur non-litigasi dengan mengadvokasi pencemaran udara ini dengan mediasi. “Semoga pemerintah maupun pihak perusahaan jangan masuk angin, harus segera menyelesaikan permasalahan ini,” pungkasnya.

Sementara, pihak perusahaan Medco sejauh ini belum memberikan keterangan resmi kepada media, terkait pertemuan yang dilakukan Kementerian LHK dengan warga di lingkar tambang perusahaan itu, begitupun media ini masih menunggu tanggapan resmi terkait dengan persoalan CSR yang dianggap tidak partisipatif dari perusahan PT Medco. (rn/red)

 

 

Editor: Mahyuddin

Bau Busuk Kasus Kementerian LHK PT Medco WALHI Warga Lingkar Tambang
Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp

Artikel Terkait

Jalan Desa Terputus, Bupati Al-Farlaky Salur Logistik ke Desa Arakundo dan Gampong Grong-grong

Desember 13, 2025

Sambangi Pengungsi di Bawah Jembatan Idi, Al-Farlaky: Jangan Ada yang Bilang Lapar

Desember 7, 2025

Bupati Al-Farlaky Terobos Lumpur Antar Logistik ke Peunaron dan Lokop

Desember 2, 2025

Korban Banjir Aceh Timur Mulai Terserang Penyakit Gatal, Demam dan Flu

Desember 2, 2025

Warga Lokop Aceh Timur Hampir Sepekan Kelaparan, Bantuan Hanya Bisa Via Udara

Desember 1, 2025

Ribuan Korban Terisolir, Desa Sahraja dan Sijudo di Aceh Timur Belum Dapat Diakses

Desember 1, 2025

Korban Jiwa Diperkirakan Lebih 30 Orang Akibat Banjir di Aceh Timur 

November 30, 2025

Bupati Al-Farlaky: Warga Kami Ada yang Kelaparan di Pedalaman Aceh Timur

November 30, 2025

BBM Langka, Ratusan Warga di Kota Idi Rayeuk Aceh Timur Serbu SPBU

November 30, 2025
RILIS.NET
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Hubungi Kami
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
© 2026 RILIS.NET All Rights Reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.