RILIS.NET, ACEH TIMUR – Ketua HMI Cabang Langsa Abdi Maulana diminta jangan menjadi penjilat Walikota, karena dapat meruntuhkan reputasi kader HMI. Penilaian Abdi disalah satu media online, yang membandingkan Kebijakan Jeffry Sentana dengan kedua Bupati, yakni Aceh Timur dan Aceh Tamiang dinilai sebagai pernyataan yang konyol dari HMI dan berlebihan.
Pernyataan itu disampaikan oleh Ketua Jaringan Aneuk Syuhada (JASA), Daerah lll Idi Muzakir, menurut Muzakir, Ketua HMI mesti berfikiran cerdas dan tanpa harus menimbulkan kesan negatif terhadap Bupati Aceh Timur dan Aceh Tamiang.
“Karena rencana kebijakan pembagian dana stimulus kepada warga Langsa kita nilai sebagai bagian cuci tangan dari Walikota, sebab saat pertama banjir diduga Walikota tidak berada di tempat sehingga banjir kritikan terhadap Walikota. Bisa jadi itu sebagai pencitraan untuk menutup bobroknya Walikota. Kemudian hadir pahlawan kesiangan ingin memberi kesan bahwa kebijakan walikota mereka populis, itu kan konyol,” kata Muzakir dalam pernyataan yang diterima media ini, Sabtu (6/12/2025).
Sebelumnya Ketua HMI Cabang Langsa Abdi Maulana berkomentar di salah satu media, bahwa kebijakan pimpinan daerah Kota Langsa bisa menjadi contoh bagi Bupati Aceh Timur dan Aceh Tamiang guna penanggulangan darurat untuk mementingkan masyarakat dengan mengorbankan kepentingan birokrasi.
“Jangan hanya tahu pencitraan yang berlebihan dengan main banjir, seperti tidak ada pasukan serta dengan hanya mengharapkan bantuan pemerintah pusat yang notabene sangat lambat dari pada siput yang berjalan,” kata dia.
“Sekali lagi, HMI berharap dan mendesak Bupati Aceh Timur dan Aceh Tamiang untuk mencontoh Pemko Langsa yang dengan segera menggunakan APBD,” tambah Abdi Maulana.
JASA menilai tidak sepantasnya Ketua HMI Langsa berkomentar dengan nada menjilat, setahunya kader HMI jarang ada yang memberikan pernyataan yang tidak kritis.
“Tamiang dan Aceh Timur paling parah dilanda bencana, jangan dibandingkan dengan Langsa yang hanya tak seberapa. Apalgi luas wilayah Langsa yang sepetak dan kecamatannya bisa dihitung dengan sebelah jari. Anggaran yang diperlukan sangat besar untuk mengatasi banjir di Aceh Timur dan Aceh Tamiang. Dengan jumlah kecamatan yang tidak sedikit,” sambung Muzakir Raja Ubit.
Oleh sebab itu, pernyataan yang keluar dari ketua HMI Langsa dinilai tidak mencerminkan sebagai intelektual dan dangkal dalam menganalisis. “Analisisnya saya nilai sangat dangkal, masa disamakan wilayah Aceh Timur yang begitu besar dengan luas Langsa yang hanya sepetak, ya wajar bisa ambil dana bagi-bagi agar terkesan peduli terhadap warga,” sebutnya.
Muzakir berharap, uang yang dibagi itu tidak pilih kasih apalagi jika harus melihat latar belakang warna pilihan ataupun bersifat politis.
“Seharusnya ketua HMI Langsa yang harus dikawal itu Walikotanya, jangan sampai ada rakyat Langsa yang tidak kebagian, dan jangan mengutamakan sanak keluarga timsesnya saja, bukan justru memberikan pernyataan yang terkesan menjilat,” harap Muzakir.
Pernyataan Abdi ini turut mendapat kritikan dari kalangan HMI sendiri, bahkan mantan Ketua Alumni Langsa juga turut mempertanyakan langkah dan upaya dari HMI cabang Langsa dalam memberikan bantuan kepada korban banjir di wilayah kerjanya.
“Kalau untuk Bupati Aceh Timur beliau telah bekerja maksimal siang dan malam, mulai dari hari kejadian sampai dengan saat ini, bahkan rumah beliau sendiri kebanjiran dan beliau serta keluarga harus mengungsi, tapi beliau meninggalkan keluarga untuk bergerak siang dan malam,” sebut Khairurradhi.
Berbicara dengan uang APBK, Bupati Al-Farlaky juga sudah memerintahkan untuk digunakan APBK khususnya pos anggaran BTT, untuk dibantu kepada masyarakat dengan memberi sembako.
Bupati juga telah diperintahkan harus segera diantar sembako tersebut ke tempat-tempat titik pengungsian. malah setiap camat diminta hadir ke pendopo untuk mengambil barang dan disampaikan untuk disampaikan kepada masyarakat, sebutnya.
“Dan yang sangat penting lagi perlu dicatat bahwa jumlah titik pengungsi banyak dan sulit dijangkau serta jumlah kecamatan di Aceh Timur itu ada 24 kecamatan dan jangan pula disamakan dengan daerah yang kecamatannya bisa dihitung dengan 1 telapak tangan,” tandas Jendral Kancil, sapaan akrab Khairurradhi. (rn/rd)

