RILIS.NET, BANDA ACEH – Sejumlah oknum yang diduga dari barisan ‘sakit hati’ saat ini dinilai gencar menghembus opini yang mengarah pada fitnah, dan menjatuhkan marwah Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky.
Upaya penyebaran isue negatif ini diduga sengaja dilakukan secara sistematis, disaat kinerja Bupati Al-Farlaky mendapatkan penilaian positif atas upaya penanganan banjir di Aceh Timur. Bupati Al-Farlaky dinilai telah bekerja maksimal dari semenjak bencana banjir yang turut melanda kawasan Aceh Timur.
“Ternyata upaya dan kinerjanya Al-Farlaky yang selama ini dinilai proaktif tangani banjir, justeru membuat sebagian oknum risih, sehingga bermanuver dan menggiring opini liar ke ruang publik yang diduga sengaja dipola untuk menjatuhkan marwah Bupati Al-Farlaky,” kata Nanda Rizki, perwakilan dari Koalisi Pemuda Aceh (KPA).
Nanda menambahkan, gerak cepat Al-Farlaky ke titik pengungsian yang semula diapresiasi, mendadak dikaburkan dengan isu yang tak terkait bencana. Spekulasi menyebar cepat di ruang digital, menuding tanpa fakta dan sumber yang jelas.
“Ada kejanggalan dan suatu upaya tak tak biasa dialamatkan kepada bupati Aceh Timur. Ini sengaja dihembuskan oleh barisan yang selama ini sakit hati dengan bupati, baik terkait politik dan barisan kecewa lainnya,” sebut Nanda Rizki dalan rilisnya yang diterima media ini, Sabtu (25/4/2026).
“Ini bukan kritik biasa. Polanya sistematis, muncul pas citra kepala daerah naik karena kerja lapangan saat banjir. Patut diduga ada operasi mereduksi marwah politik bupati Al-Farlaky,” tambanya.
Menurut Nanda, serangan dimulai dari gerakan bawah: gosip dari warung ke warung, meja kopi ke meja kopi, lalu digoreng jadi opini publik. Targetnya jelas, produksi kerja kepala daerah yang dinilai negatif.
“Begitu Bupati viral karena aktif fokus pada kerja-kerja kerakyatan, tidak menguntungkan mereka, langsung diserang marwahnya. Ini cara lama,” ujarnya.
Nanda mengingatkan, dalam situasi masyarakat berduka, hasutan tanpa verifikasi hanya memperkeruh keadaan masyarakat.
“Fokus kita seharusnya tetap pada pemulihan. Jangan sampai energi publik habis untuk debat prematur yang dikonstruksi elit,” katanya.
Ia menegaskan, politik boleh panas tapi tidak boleh biadab. “Kalau ada dugaan pelanggaran, uji dengan peran dan fungsinya. Bukan bangun opini liar menghasut dan menjatuhkan orang. Bedakan kritik fakta dengan fitnah asumsi,” ucap Nanda.
“Aceh dan khusus Aceh Timur tentu tak butuh gaduh dengan isu recehan yang sengaja dihembuskan agar menuai kebencian kepada Bupati, ini pembusukan dan pembunuhan karakter pola lama yang dilakukan, tetapi masyarakat tentu sudah cerdas dalam menanggapinya,” ujar Nanda.
Menurut Nanda, masyarakat sudah sangat cerdas menilai, apalagi yang menghembuskan isu negatif ini saban hari oknumnya masih dalam kalangan itu-itu saja. Sehingga tidak begitu ditanggapi oleh masyarakat.
“Masyarakat sudah sangat faham pola yang dimainkan ini, semestinya tidak perlu sebejad itu menciptakan isu yang mengarah kepada fitnah dan dosa jariah, karena tanpa ada bukti dan kebenaran. Saat ini justeru yang kita butuhkan dukungan kerja kolektif pemerintah yang saat ini dijalankan menangani masyarakat terdampak banjir,’ tegasnya.
Ia meminta warga waspada dengan sekolompok ini, yang diduga sedang bermanuver menjatuhkan citra positif Bupati Aceh Timur.
“Semestinya yang disampaikan itu adalah ide positif, bukan justeru opini liar. Seharusnya sudah bisa move on. Kita saat ini butuh kerja kolektif dan memberikan saran serta masukan yang membangun sebagai warga yang baik, bukan justeru sibuk menabur kebencian, menciptakan fitnah yang tidak mendasar,” pungkas Nanda Rizki. (rn/rd)
Editor: Redha

