Close Menu
RILIS.NETRILIS.NET
  • Daerah
  • Nasional
  • Hukum
  • Ragam
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Opini
  • Olahraga
  • Politik
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
RILIS.NETRILIS.NET
Facebook X (Twitter) Instagram
KONTAK
  • Daerah
  • Nasional
  • Hukum
  • Ragam
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Opini
  • Olahraga
  • Politik
RILIS.NETRILIS.NET
Berita

Jangan Paksakan ‘Keuntungan’ Pribadi, Karena Damai Sangat Berarti

REDAKSIBy REDAKSISeptember 25, 20203 Mins Read
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email
Jangan Paksakan 'Keuntungan' Pribadi, Karena Damai Sangat Berarti September 25, 2020
Ilustrasi (Foto: Google)
RILIS.NET, Aceh Timur – Damai itu indah, sepenggal kalimat ini sering terdengar bahkan telah menjadi selogan untuk mendorong adanya keharmonisan antar sesama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Damai dapat berarti sebuah keadaan tenang. Damai dapat juga menggambarkan keadaan emosi dalam diri. Damai dapat pula diartikan sebuah harmoni dalam kehidupan alami antar manusia di mana tidak ada perseturuan ataupun konflik, dan akhirnya damai juga dapat berarti kombinasi dari definisi-definisi tadi.

Pada dasarnya, untuk membangun perdamaian sejati mesti sampai pada menciptakan budaya damai. Budaya damai itu menyangkut pola pikir, cara bersikap, perilaku, karakter, mentalitas, keyakinan, pola hubungan dengan pihak lain, tata kehidupan bersama yang ditandai dengan nilai-nilai luhur seperti keadilan, kesetaraan, demokrasi, dan solidaritas. 

Menurut para ahli, damai itu adalah merupakan penyesuaian pada pengarahan dari seseorang atau kelompok dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan dalam hidup. Biswas misalnya, ia berpendapat jika arti damai memiliki tujuan untuk mengekspos berbagai cara tanpa menggunakan kekerasan untuk mengatasi sebuah konflik.

Untuk itu, tak ada sesuatu apapun yang paling berharga untuk mempersembahkan kenyamanan warga, selain dengan kondisi damai. Tidak ada arti suatu keuntungan dan kemewahan yang kita miliki, jika kedamaian disuatu negeri telah tergadai dengan kepentingan ego sektoral.

Bila kita menyikapi persoalan yang sedang terjadi saat ini, khususnya di Aceh Timur, ada baiknya segala sesuatu uarus dipertimbangkan secara matang, disini, memang kita sedang tidak mengkalkulasi keuntungan, baik kepada siapa dan dari mana, apalagi jika bila terlalu jauh menduga-duga juga percuma saja. Karena yang harus menjadi perhitungan kita bersama yakni, adakah keuntungan itu berpihak kepada rakyat? atau justeru itu akan mengebiri hak masyarakat?, lagi-lagi jawabannya ada pada diri kita masing-masing untuk menjawab itu.

Namun, jika saja keuntungan dinikmati oleh pihak lain? tentu tidak pantas didaerah hanya menuai kegaduhan, akibat anak negeri saling tuding dan berujung pada aksi-aksi. Untuk itu sudah seharusnya para pihak yang mengantongi mandat dari rakyat harus bersikap tegas dan lebih peka memperjuangkan aspirasi anak negeri, dari pada harus menimbulkan niat untuk melakukan “perselingkuhan” dengan pihak luar.

Satu lagi, jangan pernah memaksakan kehendak, apalagi disituasi yang sangat genting untuk harus dipaksakan, ibarat berenang ditengah derasnya arus yang posisinya justeru berlawanan. Sebaliknya dianjurkan untuk menepi sejenak demi kebaikan.

Jika memaksakan kehendak kepada diri sendiri saja dapat menuai kecewa, apalagi pemaksaan kehendak kepada banyak orang. Tak heran kalau pemaksaan kehendak itu sebuah sikap yang tidak dianjurkan. Begitu pentingnya mencegah  pemaksaan kehendak dalam kehidupan bermasyarakat, maka negara kita mengaturnya dalam satu bab tersendiri soal hak asasi melalui UUD 1945.

Pemaksaan kehendak yang ditentang oleh banyak orang, justeru akan menuai kegaduhan yang tidak diinginkan. Sejatinya kedamaianlah yang mesti dipersembahkan karena itu adalah kebutuhan yang mendasar dalam hidup berbangsa dan bernegara. Damai itu sangat berarti, dan lebih bermakna dari pada keuntungan untuk pribadi. Budaya damai itu menyangkut bagaimana kita menata suatu kehidupan bermasyarakat yang bebas dari kegaduhan, untuk itu sudah sepantasnya semua harus bersikap bijak merelakan kedamaian itu tetap terus tegak berdiri, dari pada harus ‘ngotot’ memaksakan keuntungan untuk pribadi?. (Redaksi)
Baca Juga :  18 Petugas Ruang Pinere di RSUDCND Meulaboh Terpapar Covid-19
Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp

Artikel Terkait

WALHI Aceh: Pengerukan Pasir di Jembatan Teupin Mane Langgar UU dan Ancam Keselamatan Warga

Desember 24, 2025

114 Siswa Diktukba Polri Dilantik di SPN Polda Aceh

Desember 24, 2025

Demonstrasi di Banda Aceh, Warga Kibarkan Bendera Putih

Desember 18, 2025

BNPB Minta Data Kerugian Warga yang Terkena Bencana Dipercepat 

Desember 18, 2025

Kapolda Aceh Dampingi Wapres Gibran Tinjau Lokasi Banjir Bandang di Pidie Jaya

Desember 17, 2025

Bupati Al-Farlaky Bawa Relawan Medis , dan Logistik ke Gampong Cek Mbon Peureulak 

Desember 9, 2025

Polda Aceh Kirim Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Banjir di Simpang Jernih Aceh Timur

Desember 6, 2025

Jubir: Pemerintah Aceh Potong Belanja SKPA Penuhi Tanggap Darurat

Desember 4, 2025

Sifat Ku’eh, Pesan Moral Al-Farlaky dan Antagonis

Oktober 15, 2025
RILIS.NET
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Hubungi Kami
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
© 2026 RILIS.NET All Rights Reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.