Close Menu
RILIS.NETRILIS.NET
  • Daerah
  • Nasional
  • Hukum
  • Ragam
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Opini
  • Olahraga
  • Politik
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
RILIS.NETRILIS.NET
Facebook X (Twitter) Instagram
KONTAK
  • Daerah
  • Nasional
  • Hukum
  • Ragam
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Opini
  • Olahraga
  • Politik
RILIS.NETRILIS.NET
Editorial

Sifat Ku’eh, Pesan Moral Al-Farlaky dan Antagonis

REDAKSIBy REDAKSIOktober 15, 20254 Mins Read
Sifat Ku'eh, Pesan Moral Al-Farlaky dan Antagonis Oktober 15, 2025
FOTO: Kelase Ilustrasi Rilisnet
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

RILIS.NET – Ku’eh adalah suatu bahasa atau istilah dalam bahasa Aceh, yang mencerminkan seseorang berprilaku buruk, dan memiliki sifat dengki, dendam, khianat bahkan suka menghina.

Sikap ini pula yang sering dipraktikkan oleh seseorang terhadap orang lain, ataupun kelompok dan komunitas tertentu, yang dianggapnya tak tidak sehaluan dan telah menghambat kepentingannya.

Tak jarang, kebaikan yang dilakukan pun akan dipolitisir ke arah negatif, dengan tujuan agar orang yang tidak disukainya mendapatkan hujatan dan penghalang sesuai harapan jahatnya.

Itu sebab, Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky mengambil tema ini dalam tausiahnya pada acara Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah, yang digelar di Masjid Agung Darusshalihin Idi, Aceh Timur Selasa, 14 Oktober 2025.

Menurut Al-Farlaky begitu dia akrab disapa, sifat Ku’eh (dengki) yang dipelihara oleh seseorang dapat merusak nilai moral, dan meruntuhkan amal. Oleh karena itu ia meminta para jamaah agar menyucikan hati.

Cara mensucikan hati diantaranya mendengar petuah-petuah yang bagus, ilmu kajian Islam serta Sirah Nabawiyah tentang perjalanan nabi saat menyiarkan Islam, dalam menghadapi setiap hinaan dan cacian, serta sampai hijrah dari Mekkah ke Madinah. “Ini dituntut kita untuk bisa mengambil hikmah dan i’tibar dalam perjalanan Nabi Sallallahu’alaihiwassalam, sehingga meredamlah sikap ku’eh yang ada dalam diri,” ulas Bupati Al-Farlaky.

Baca Juga :  Sanggup Buat Tak Mampu Rawat

Tema ‘Bek Ku’eh‘ yang disampaikan oleh Bupati Aceh Timur ini dinilai sebagai pesan moral yang mendalam bagi para jamaah yang hadir, bahkan bisa menjadi pengingat kepada masyarakat lainnya, agar tidak berprilaku buruk, dan suka menebar kebencian terhadap sesama.

Prilaku ku’eh terkadang kerap diperankan oleh oleh para pekerja di perkantoran, seperti di instansi pemerintahan, ada orang yang baik dalam bekerja dikatakan tidak baik, dan yang baik mendapatkan fitnah, semua sikap yang dipraktekkan atas dasar ketidaksenangan terhadap seseorang yang tidak disukainya.

Sifat Ku’eh biasanya sering diperankan oleh antagonis dalam suatu cerita, ia menjadi penantang terhadap kebaikan, semua yang dibuat baik menjadi kebalikan.

Tak jarang prilaku ku’eh ala antagonis ini sering ditemui di tengah masyarakat, bisa jadi antara orang pribadi, bahkan antar kelompok dalam masyarakat.

Ada penyakit hati yang terkadang sukar untuk sembuh, bahkan sifat ku’eh ini seperti sudah dibawa dari sejak lahir.

Seseorang yang memiliki sifat pendengki ini dia lebih senang melihat orang lain susah, dan susah ketika melihat orang lain senang, prilaku negatif ini sering di istilahkan dengan lakap ‘SOS’. (Susah melihat Orang Senang, dan Senang Melihat Orang Susah).

Baca Juga :  Pepesan Kosong Pencegahan Covid-19

Ada kelompok melihat sinis kelompok lainnya, ada pribadi yang membenci pribadi lainnya, bahkan ada rakyat yang memusuhi pemimpinnya. Walau tanpa sebab musabab, asal birahinya tak terpenuhi maka harus bersiap-siap mendengar ocehan dan makiannya dari si pendengki setiap hari.

Kebenaran dimatanya hanya polesan, kebaikan dianggapnya hanya pencitraan bahkan tak jarang sesama kawan dilabel menjilat jika turut mensupport program dan kebijakan yang pro rakyat.

Belum lagi sifat ku’eh yang dimiliki oleh para politikus, semua program yang dijalankan oleh lawannya politik yang menang dianggap kebohongan, meskipun itu demi kebaikan masyarakat lainnya.

Sifat dengki dan pendendam ini biasanya dipelihara oleh politikus karbitan, dan tidak dewasa dalam percaturan politik nasional, Sehingga timbul perpecahan bertahun-tahun tanpa menerima kenyataan.

Bagi pemeran antagonis dalam sebuah cerita, sifat ku’eh menjadi senjata untuk menghasut setiap waktu kepada lawannya. Kebaikan pun diubah sebagai petaka dan nyaris tanpa cerita lain di setiap waktunya, selain menebar kebencian dan fitnah.

Baca Juga :  Mau Menegak Hukum atau Meneguk Untung di Dana Desa

Tokoh antagonis ini sering digambarkan sebagai ‘penjahat’ yang ingin menghalangi tujuan protagonis, namun bisa juga berupa kekuatan alam, masyarakat, atau bahkan konflik batin protagonis itu sendiri.

Setidaknya ada tiga fungsi tokoh antagonis yang perlu diketahui. Dalam buku berjudul Trichoderma: Si Agen Antagonis (2017) oleh Rina Sriwati, tokoh antagonis adalah memiliki fungsi membuat jalan cerita menarik, menciptakan alur dan emosi, serta sumber konflik.

Jadi tak jarang di sering menceritakan sesuatu ataupun membandingkan dengan sesuatu cerita dengan maksud membawa perbandingan, kemudian membangkitkan emosi orang lain agar mengikuti kehendak hatinya.

Sosok sesuai arti antagonis adalah, memiliki peran sebagai musuh, penjahat, petarung, pendendam, pembohong, sombong, tidak bersahabat, suka pamer, pembuat masalah, dan juga pembuat masalah.

Sedangkan ciri khas antagonis adalah pintar memutar balikkan fakta, dan menebarkan kebencian, itulah arti antagonis dalam karya sastra drama. Bagaimana pun lihainya dalam memutar balikkan fakta dalam sebuah cerita, peran antagonis dengan sifat ku’eh yang dilakoni biasanya tidak disuka karena dapat berperan sebagai pemicu konflik. (*)

 

Penulis: Redaksi

Antagonis Bupati Al-Farlaky Ku'eh Pesan Moral
Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp

Artikel Terkait

Masa Jabatan Keuchik 8 Tahun Perlu Dievaluasi, Harus Ada Regenerasi di Masyarakat

April 20, 2024

Mengenali 7 Ciri-ciri Orang yang Terlihat Sangat Baik Namun Ternyata Berhati Licik

Februari 19, 2024

Sanggup Buat Tak Mampu Rawat

April 15, 2023

Ujian Test PPPK, Kecerdasan Peserta dan Kecurangan Penyelenggara

Maret 22, 2023

Mutiara di Khatulistiwa dan Munas KAHMI

Oktober 13, 2022

Menuju Tuhan, Kredibilitas Mu Harus Dihancurkan

Oktober 12, 2022

Dua Tahun Media RILIS.NET Naluri Berbagi Tak Akan Mati

Juni 14, 2022

25 Orang Meninggal di Sumur Minyak Aceh Timur, Kemana Regulasi

Maret 22, 2022

Jangan Paksakan ‘Keuntungan’ Pribadi, Karena Damai Sangat Berarti

September 25, 2020
RILIS.NET
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Hubungi Kami
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
© 2026 RILIS.NET All Rights Reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.